About

Kamis, 09 November 2017

Anxious - Cho Kyuhyun Fanfiction (Married Life)


Nunna's note :
Fanfiction ini dipublish berdasarkan hasil revisi naskah saya sebelumnya yang menggunakan karakter dan judul yang berbeda. sekiranya tidak suka tolong jangan meng-judge ataupun mengcopy-paste karya saya. Tolong dengan sangat untuk menghargai karya abal-abal saya ini. Terima kasih telah berkunjung. 

Title : Anxious 
Author : Natha Yongie a.k.a Nunnaswag 
Cast : Cho Kyuhyun
           Kim Shin Yeong a.k.a Jung Nara
           Daniel Hyunoo a.k.a Cho Jino
           Kang Chan Hee a.k.a Cho Jaehyun
Genre : Married Life, Hurt, Family, Sad





Chapter I

Derik pintu rumah yang cukup mewah itu terbuka, menampakkan sosok yang menjulang tinggi dengan keadaan yang cukup berantakan. Pasti dia sudah kembali. Ya, dia adalah Cho Jaehyun putera pertama dari Cho Kyuhyun. CEO paling kaya nomor tiga di negara ini.

“Kau sudah pulang?” tanya Nara saat remaja berusia enam belas tahun itu mulai memasuki ruang tengah keluarga Cho.

Hening.

Itulah dia, sama persis seperti Cho Kyuhyun yang dingin dan pendiam. Terlebih setelah Nara hadir di kehidupan keluarga Cho, Nara merasa seperti benalu yang menumpang hidup pada orang lain. Meskipun Cho Kyuhyun bahkan tak banyak mengungkit tentang hal itu, hanya saja Nara adalah seorang yang berperasaan. Ia bisa merasakan aura yang tidak bersahabat saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah kebesaran keluarga Cho. Singkat cerita, Nara menjadi korban pelecehan oleh Kyuhyun yang saat itu sedang frustasi dan di bawah pengaruh minum-minuman keras dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.

Hyung?!” teriak Jino, yang merupakan putera kedua keluarga Cho. Anak laki-laki berusia lima tahun itu sangat antusias ketika melihat Jaehyun sudah kembali dari sekolahnya. Namun, acuh. Ya, Jaehyun mengacuhkan keberadaan Nara dan Jino.

Jaehyun hanya melihat sekilas Jino dengan tatapannya yang tajam, setelah itu melenggang pergi memasuki kamarnya yang terletak di lantai atas. Nara menelan kenyataan pahit lagi, sampai kapan Jaehyun akan membenci dirinya dan juga Jino? Protes Nara dalam hati.

Kedua manik mata Jino mulai berkaca-kaca. Jino berlari menuju Nara yang sedari tadi memperhatikan dirinya dari dapur. Anak itu menangis, menangis kepada Nara. Menumpahkan segala ketakutannya kepada ibunya.

“Tidak apa, sayang. Hyung hanya sedang lelah saja,” ujar Nara mencoba memberi pengertian kepada Jino.  Ia berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Jino. Menangkup wajah mungil Jino yang sembab karena air mata.

“Apa hyung membenciku,eomma?” tanya Jino di sela sesenggukannya. Nara tertohok. Itu pasti. Bayangkan saja, di usia Jino yang masih terbilang sangat kecil bisa bertanya demikian. Bagaimana perasaanmu jika kau jadi Nara?

“Heiz, bicara apa kau ini hum? Siapa yang mengatakannya padamu, berani sekali dia,” gerutu Nara mencubit ujung hidung Jino yang memerah dengan usil.

“Tapi teman-teman di sekolah mengatakan jika Jaehyun hyung membenci Jino,” jelasnya membuat Nara kembali tertohok. Bahkan lingkungan sekolah Jino berpikiran jika Jaehyun membenci Jino. Meskipun pada faktanya, memang benar jika Jaehyun tidak menyukai kehadiran Jino. Apalagi mengakui Jino sebagai adiknya. Itu tidak mungkin.

“Hei, Jino sayang. Jangan dengarkan mereka, tapi dengarkan eomma. Kau mengerti?”  Nara membawa Jino dalam rengkuhannnya. Jemarinya terulur untuk mengelus rambut kecoklatan milik Jino yang saat ini dalam dekapan wanita itu.


                                                                 ...

                Jaehyun maupun Kyuhyun, kedua manusia itu selalu menghindar ketika Jino hendak mendekat pada mereka. Nara paham dengan sorot kebencian yang selalu terpancar dari Jaehyun. Tapi tidak dengan Jino bukan? Ia hanyalah seorang anak kecil yang membutuhkan kehangatan dari keluarganya. Bukan keadaan yang menyulitkan seperti ini.

                Appa!” teriak Jino saat melihat Kyuhyun yang baru saja melepas sepatu dinasnya. Pria itu hanya tersenyum datar saat melihat antusiasme Jino yang ingin memamerkan bola barunya kepada Kyuhyun. Itulah dia, pria brengsek dengan sikap dingin dan menyebalkan sekali.

                Eomma, apa Appa lelah?” tanya Jino dengan polosnya setelah melihat ayahnya sudah hilang bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar utama rumah ini.

                “Ya, dan Jino tidak boleh mengganggu Appa. Jino mengerti bukan, sayang?” ujar Nara penuh dengan nada pengertian. Jino mengangguk pelan. Ya, ia juga harus mengerti keadaan Kyuhyun yang mungkin lelah karena selalu berkencan dengan segudang pekerjaannya selama di kantor.

                                                         ...

“Jino, bangun sayang. Kau harus pergi ke sekolah?” ujar Nara membangunkan Jino yang masih bergelung dengan selimut tebal bermotif Doraemon itu. Anak itu menggeliat pelan, merasakan tidurnya terganggu karena Nara.

                “Apa Appa bisa mengantarkan Jino hari ini, eomma?” tanya Jino dengan suara anak kecil yang khas jika bangun tidur. Nara tersenyum miris. Bahkan membayangkan Jino dan Kyuhyun bercengkerama saja bagaikan mengharapkan salju turun di musim gugur.

                Eomma,” tegur Jino merasa tidak mendapat jawaban dari Nara.

                “Bukankah Jino selalu berangkat dengan Eomma? Apa Jino tidak suka ke sekolah bersama Eomma, eoh?” Nara pura-pura merajuk. Jino menggeleng dengan cepat. Melingkarkan kedua lengan mungilnya ke leher Nara.

                “Tidak, bukan seperti itu. Jino hanya ingin seperti teman-teman yang lain, eomma.” Nara mengangguk kecil. Punggung mungil itu diusapnya dengan penuh sayang.

                Eomma mengerti sayang, tapi Jino tahu kan jika Appa sangat sibuk?” kedua wajah ibu dan anak itu saling bertemu. Gerakan anggukan kecil tercipta oleh Jino. Ya, Nara selalu menggunakan alasan yang sama.

                “Sekarang Jino sudah harus bersiap bukan? Atau nanti kau akan dihukum Min saem jika terlambat!” ujar Nara membantu Jino turun dari atas ranjang. Segera menuntun putera kecilnya itu untuk membersihkan diri dan bersiap untuk sekolah.

                                                               ...

                Kyuhyun menikmati sarapannya dengan tidak bernapsu. Bukan karena menu masakan Nara, tetapi karena ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Sementara Jaehyun memang cukup lahap jika dengan makanan. Terlebih jika boleh jujur, masakan Nara sangat enak. Seperti chef-chef handal di setiap restaurant yang pernah dikunjunginya.

                “Selamat pagi, Appa dan Hyung!” sapa Jino mengeratkan ransel mungilnya.
Nara menarik salah satu kursi di samping Jaehyun dan membiarkan puteranya itu bergabung di meja makan untuk sarapan bersama Kyuhyun, Jaehyun dan juga dirinya.

                “Aku selesai, aku pergi.” Jaehyun beranjak dari duduknya membuat Nara mendongakkan wajahnya. Lantas mengangguk mengerti. Berbeda dengan Kyuhyun, pria itu juga melakukan hal yang sama seperti Jaehyun. Sungguh mirip bukan?

                Eomma, Jino bahkan belum makan sedikitpun.” Jino tertunduk lesu. Ia benci situasi seperti ini. Dan ia tidak bisa melakukan apapun selain pasrah setiap kali ayah dan kakaknya menghindari dirinya. Nara juga harus ekstra sabar memberikan pengertian untuk Jino agar tidak membenci mereka.

                “Maka dari itu, Jino harus lebih sering bangun pagi eoh. Agar nanti bisa makan bersama Appa dan juga Hyung.” Jino mengaduk makanannya tanpa minat.

                Eomma tidak pernah mengajari Jino untuk memainkan makanan bukan?” tegur Nara membuat Jino cepat-cepat menyendok omurice buatannya.

                “Pelan-pelan sayang!” Nara berharap Kyuhyun dan Jaehyun akan membuka hatinya untuk dirinya dan juga Jino. Meskipun itu mustahil, tapi tidak ada salahnya kan untuk berharap?

                                                           ...

                Kyuhyun menatap miris kedua manusia yang berada di seberang jalan sana. Di mana Nara tengah menggandeng Jino untuk mencapai halte bus terdekat. Ini adalah jam pulang Jino begitu juga Nara yang telah memilih berhenti mengajar pasca melahirkan Jino.

                Sesekali Jino menoleh dan menatap iri setiap anak yang bermain bersama kedua orangtuanya. Sedangkan ia hanya bersama Nara. Bahkan selalu dengan Nara. Ia juga ingin seperti yang lain. Yang selalu diperhatikan oleh pria dewasa yang selalu dipanggil dengan sebutan ‘Ayah’.

                Eomma, Jino ingin ice cream?” Jino menarik ujung dress Nara. Bermaksud agar wanita itu berjongkok, dan Nara tentu mengikuti kemauan anaknya.

                “Jino ingin ice cream?” ulang Nara sengaja menggoda Jino. Anak berpipi tambun itu mengangguk antusias. Jari telunjuknya yang mungil menunjuk sebuah kedai ice cream di seberang jalan. Nara menolehkan kepalanya ke belakang. Dan benar saja, di sana ada sebuah kedai ice cream yang nampak tidak begitu sepi namun tidak terlalu ramai.

                “Baiklah, Jino ingin ice cream rasa apa nanti?” tanya Nara membawa Jino dalam gandengannya menyebrangi jalan raya yang cukup senggang hari ini. Tidak seperti biasanya. Padat.

                “Jino ingin yang cokelat tapi tidak dengan yang ada kacangnya,” ujar Jino antusias setelah mencapai kedai tersebut. Ia menunjuk sebuah ice cream yang cukup menarik tampilannya. Menyadari antusiasme Jino, membuat sebuah lengkungan timbul di sudut bibir wanita itu.

                Eomma, ayo kita duduk di sana!” ajak Jino menunjuk sebuah bangku panjang yang letaknya tidak jauh dari kedai ice cream tadi.

                “Lihat, kau berantakan sekali sayang,” ujar Nara mengusap bibir Jino yang sudah kotor karena ice cream yang menempel di seluruh pipi Jino yang tambun.

                Appa?” Jino membulat tidak percaya melihat seorang pria yang berdiri di balik kotak telepon umum dengan memakai topi hitam.

                Nara menoleh sebentar. Ia tidak terlalu memerhatikan orang itu. “Bukan sayang, Appa sedang bekerja di kantor. Jino bahkan melihat Appa berangkat bukan?”

                Jino merengut. Memincingkan matanya untuk memastikan pria itu. Siapa tahu itu memang benar Kyuhyun. “Eomma tidak percaya dengan Jino?” selidik Jino kecewa.

                “Mungkin Jino sangat merindukan Appa sampai mengira ahjussi itu adalah Kyuhyun Appa kan?” Nara mencoba mengecoh Jino. Lagi. Anak itu merengut. Mengerucutkan bibirnya kesal.
           

Sudahlah, sekarang kita pulang eoh? Eomma harus menyiapkan makan malam untuk Appa dan juga hyung,” ujar Nara mengajak Jino untuk kembali menunggu bus di halte tadi. Meskipun Jino mengikuti langkah Nara, pandangan anak itu terus mengarah pada Kyuhyun yang memang benar sedang memerhatikan dirinya dan Nara. Dari kejauhan.

                 
                                                               ...

Semilir angin malam menyejukkan telah menyapu seluruh permukaan kulit wajah Kyuhyun. Pria tiga puluh tiga tahun itu berdiri di teras rumah kebesarannya. Entah sadar atau tidak, ini seperti bukan Kyuhyun. Menunggu Nara? Iya, ia sedang menunggu Nara kembali setelah seharian penuh menguntit Nara dan Jino. Pasalnya, sudah hampir jam delapan malam Nara belum kembali padahal ia dengan jelas melihat Nara membawa Jino pulang dengan menaiki bus umum. Lalu dimana keberadaan mereka sekarang ini? 

                “Apa yang Appa lakukan di sini?” tegur Jaehyun yang baru saja tiba dan memarkirkan ducati-nya. Aneh saja, tidak biasanya Kyuhyun masih berada di luar rumah kecuali menunggu seseorang. 

                “Tidak ada, cepat masuklah dan beristirahat!” perintah Kyuhyun mendorong Jaehyun agar segera masuk ke dalam. 

                Setelah seperkian detik yang berganti hingga menunjukkan pukul sembilan malam. Siluet tubuh Nara dengan membawa Jino dalam gendongannya, yang nampak begitu kuwalahan. Kyuhyun gelagapan. Ia tidak ingin Nara tahu jika ia sedang menunggu kepulangannya.

                “Ssst... tidak apa sayang, eomma di sini,” bisik Nara mengusap punggung Jino yang sudah terlelap dalam gendongannya.

                “Kau sudah pulang?” tanya Nara melihat Kyuhyun yang sok sibuk dengan tabletnya.

                “Maaf karena tidak menyiapkan makan malam hari ini,” imbuhnya sebelum menghilang di dalam kamar Jino. Kyuhyun menghela napas lega, kenapa ia justru takut ketahuan oleh Nara. Padahal ia sebenarnya memang mencemaskan keadaan anak dan istrinya. Entahlah.

                Kyuhyun memutar poros wajahnya melihat air muka Nara yang bisa dikatakan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahagia selama menikah dengannya. Sekalipun ia pernah berbohong pada Nara. Perihal perceraiannya dengan Sena lima tahun silam. Ini cukup rumit untuk bisa dipahami.

                Nara menghembuskan napas beratnya. Ia sengaja pulang malam karena mengunjungi rumah lamanya. Entah kenapa tiba-tiba ia begitu merindukan rumah yang sudah menjadi saksi bisu perjuangan hidupnya dulu. Menjadi seorang sebatang kara yang harus membuat Nara harus merasakan kerasnya kehidupan ini. Terlebih saat ini, meskipun semua kebutuhannya serta Jino akan dengan mudah dipenuhi oleh Kyuhyun. Tetap saja, Nara masih merasa tidak puas. Karena kebahagiaan Jino bukan dengan kekayaan yang diberikan oleh Kyuhyun melainkan rasa kasih dan sayang dari Kyuhyun, itulah yang ia inginkan selama ini apalagi oleh Jino.
                                                           ...

                Jaehyun merasa risih tatkala segala gerak-geriknya tengah diamati oleh Kyuhyun, ayahnya sendiri. Bagaimana tidak, sudah hampir dua jam pria hampir tua namun tampan itu berada di dalam kamarnya dengan alasan memantau kegiatan belajarnya. Kyuhyun bukannya tak tahu apapun mengenai sekolah Jaehyun, bahkan berkali-kali Kyuhyun harus menahan malu karena pihak sekolah selalu melaporkan kebrutalan Jaehyun selama di sekolah.

                Appa, berhenti menatapku seperti itu!” erang Jaehyun frustasi pada seorang yang duduk manis di atas ranjangnya. Dengan kaki terlentang dan kedua tangan yang dilipat di depan dada pula.

                “Jangan pedulikan aku, lanjutkan saja belajarmu itu!” ketusnya. Membuat Jaehyun menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Jujur saja Kyuhyun merindukan masa-masa di mana ia selalu bercanda dengan Jaehyun. Itu semua pernah didapatnya ketika masih ada Sena. Bukan, bukannya ia sedang merindukan Sena, mantan istrinya itu. Tapi, ia hanya sedang mengenang kebersamaannya bersama Jaehyun. Ia merindukan hal itu.

                Sejak memutuskan menikahi Nara, namun belum sepenuhnya melepas Sena. Jaehyun memang secara terang-terangan mengatakan membenci Nara dan juga Jino yang saat itu masih berada dalam kandungan Nara. Apa mungkin hal itu masih mengganggu pikiran Nara hingga saat ini? Batin Kyuhyun.

                Meskipun Kyuhyun berada di kamar Jaehyun, ingin sekali ia mengajak Nara untuk mengobrol. Tapi lagi-lagi sikap gengsi menghalanginya. Baginya menikahi Nara hanyalah sebatas tanggung jawab, bahkan Nara pernah mengatakan jika tak apa ia diceraikan setelah Jino lahir. Tapi kakak perempuannya, Cho Ahra melarang perceraian itu. Jadi, bisa disimpulkan bahwa alasan Nara tetap tinggal adalah saudara iparnya. Bukan Cho Kyuhyun!

                “Ahra Imo akan datang bukan minggu ini?” tanya Jaehyun menatap Kyuhyun yang nampaknya tengah melamunkan sesuatu.

                Appa!” panggil Jaehyun membuat Kyuhyun nyaris berjingkat.

                “Ya? Kau bicara denganku?” Kyuhyun nampak kelabakan.

                “Tentu, kau yang satu-satunya di sini. Siapa lagi?” ketus Jaehyun membuka mp3-playernya. 

                “Apa kau butuh sesuatu?” 

                “Tidak, aku hanya ingin ikut Imo ke LA. Aku ingin tinggal di sana,” ujar Jaehyun gamblang.

Kerutan di dahi Kyuhyun terbentuk nyata. Ada apa dengan anaknya itu? Kenapa mendadak sekali ingin ikut bibinya yang menetap di Los Angeles? Begitu serentetan pertanyaan yang tersusun di pikiran Kyuhyun. 

“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin tinggal bersama Imo?” selidik Kyuhyun melihat raut wajah Jaehyun yang tidak meyakinkan.  Ia tidak percaya begitu saja dengan apa alasan yang nantinya akan keluar dari mulut anaknya itu.

                “Aku hanya ingin melanjutkan sekolahku di sana, dan Appa bisa fokus pada ibu dan anaknya itu,” jelas Jaehyun membuat Kyuhyun menegang. Entah apa itu yang jelas Kyuhyun juga tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Ia bahkan tidak masalah jika Cho Jaehyun akan bertolak ke Los Angeles bersama dengan Cho Ahra.

                “Kau serius dengan ucapanmu?” selidiknya lagi.

                “Ya, kenapa tidak? Apa aku terlihat bercanda?” ketus Jaehyun. Jika seperti ini sikapnya yang menjengkelkan akan keluar. Sama persis seperti Kyuhyun yang tidak ingin didebat.

                “Katakan pada Ahra Imo jika kau benar-benar ingin tinggal bersamanya!” Kyuhyun beranjak dari duduknya. Ia terlalu malas meladeni anaknya. Melangkah keluar meninggalkan kamar Jaehyun ia sedikit terkesiap melihat Nara duduk melamun di sofa ruang tengah mereka. Apa Nara mendengarnya? Jika iya, apa dia akan semakin baik-baik saja. Mengingat Jaehyun memang tidak pernah menyukai Nara berikut dengan Jino.

                “Ini sudah larut, apa kau tidak ingin tidur?” sial! Bahkan mulutnya terasa kelu barang menanyakan perihal itu pada wanita bersurai karamel itu.
                                                                ...

Hiruk pikuk keramaian kota Seoul yang begitu padat menyambut kedatangan seorang wanita yang nyaris berkepala empat itu. Digeretnya sebuah kopor besar berwarna hitam di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang sebuah dompet kulit keluaran terbaru. Dengan kacamata hitam yang bertengger indah di atas hidungnya yang lancip, wanita itu melenggang melewati semua manusia yang ada di bandara yang memandang dirinya takjub. Ayolah, siapa yang tidak mengenal Cho Ahra?  Puteri pertama dan satu-satunya dari keluarga Cho.

Jemarinya yang lentik, sangat khas dengan kulitnya yang seputih susu dan semulus kulit bayi merogoh ponselnya yang berada di dalam dompet. Dengan segera ia men-dial sebuah nomor yang tak lain adalah kepunyaan Cho Kyuhyun, adik semata wayangnya yang sialan tampan itu.

“...” sapa sebuah suara dari line seberang.

“Aku sudah tiba, jemput aku segera!” putusnya tanpa perlu menunggu persetujuan dari adiknya, ia sudah lebih dahulu mematikan sambungan teleponnya. Persis seperti Cho Kyuhyun bukan? Itu mungkin sudah menjadi rahasia umum jika keduanya terkenal sangat egois, namun Cho Ahra masih lebih baik daripada Cho Kyuhyun.

                                                    ...

Pancaran binar kegirangan tak pernah surut dari manik mata Jino melihat seorang wanita yang tengah mensejajarkan tingginya dengan dirinya. Cho Ahra menangkup kedua pipi tambun Jino yang sungguh menggemaskan. Sungguh! Jika kalian menyaksikannya secara langsung mungkin kalian juga akan sependapat.

Imo, Jino merindukanmu,” ujar Jino dengan polosnya. Ahra mengangguk mengerti. Jika boleh jujur, ia juga merasakan hal yang sama dengan keponakan kecilnya itu.

Imo arra,” balasnya mengasak rambut Jino secara asal. Membuat sang pemilik sedikit mencebikkan bibirnya lantaran kesal. Ahra dan ibunya selalu saja melakukan hal yang sama jika sudah berhadapan langsung. Nara yang berada tidak jauh dari mereka tersenyum simpul. Setidaknya Ahra masih peduli dengan keberadaan Jino.

“Nara-ya, kau beri makan apa Jino hingga ia sebegitu menggemaskannya?” goda Ahra yang mengambil alih tempat kosong di samping Nara. Nara hanya kembali melemparkan senyum simpulnya untuk Ahra.  Tentu saja ia memberi Jino makanan manusia kan, bukan makanan hewan.

Seorang pria dengan paras jangkung itu baru saja keluar dari kamar utama yang terletak di lantai atas. Dengan mengenakan celana santainya serta kemeja dengan lengan yang digulung ke atas, Kyuhyun berjalan santai menuruni satu per satu anak tangganya. Nara merasa canggung jika seperti ini. Bisa kalian bayangkan, selama 6 tahun ini mereka tak pernah bicara ataupun saling bertukar sapa meskipun mereka tinggal di bawah atap yang sama dan tidur di ranjang yang sama. Miris bukan?

                “Sedari tadi aku tidak melihat Jaehyun, dimana anak itu sekarang?” gerutu Ahra mendelik curiga pada Kyuhyun yang baru akan mendaratkan pantatnya di sofa yang berseberangan dengan Ahra, Nara dan juga Jino.

                “Dia masih ada di sekolah,” seloroh Kyuhyun menangkap basah raut wajah Nara yang ingin sekali segera meninggalkan obrolan ini melalui ekor matanya.

                Eonni, aku akan menyiapkan makan malam. Lanjutkan saja obrolan kalian!” Benar kan tebakan Kyuhyun. Ia tidak meleset sedikitpun. Ahra yang menyadari situasinya menatap tajam pada adiknya yang hanya bisa melihat punggung mungil Nara yang bergerak semakin menjauh.

                Imo, apa Imo akan tinggal di sini dengan Jino?” tanya Jino begitu polos. Ahra segera memamerkan senyum andalannya. Lalu mengangguk pelan.

                “Padahal semalam Jaehyun merengek ingin tinggal bersamamu.” Nara menghentikan kegiatannya memotong sayuran. Kalimat itu, setelah semalam ia mendengarnya dengan cukup jelas. Haruskah ia mendengarnya lagi? Ahra lagi-lagi menghunuskan tatapan tajamnya untuk sang adik. Tidak bisakah pria ini mengerti bagaimana perasaan Nara?
                                                       ...


To be Continue...
 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar