Nunna's note :
Fanfiction
ini dipublish berdasarkan hasil revisi naskah saya sebelumnya yang
menggunakan karakter dan judul yang berbeda. sekiranya tidak suka tolong
jangan meng-judge ataupun mengcopy-paste karya saya. Tolong dengan
sangat untuk menghargai karya abal-abal saya ini. Terima kasih telah
berkunjung.
Title : Anxious
Author : Natha Yongie a.k.a Nunnaswag
Cast : Cho Kyuhyun
Kim Shin Yeong a.k.a Jung Nara
Daniel Hyunoo a.k.a Cho Jino
Kang Chan Hee a.k.a Cho Jaehyun
Genre : Married Life, Hurt, Family, Sad
Chapter I
Derik pintu rumah yang cukup mewah itu terbuka,
menampakkan sosok yang menjulang tinggi dengan keadaan yang cukup berantakan.
Pasti dia sudah kembali. Ya, dia adalah Cho Jaehyun putera pertama dari Cho
Kyuhyun. CEO paling kaya nomor tiga di negara ini.
“Kau sudah pulang?” tanya Nara saat
remaja berusia enam belas tahun itu mulai memasuki ruang tengah keluarga Cho.
Hening.
Itulah dia, sama persis seperti Cho
Kyuhyun yang dingin dan pendiam. Terlebih setelah Nara hadir di kehidupan
keluarga Cho, Nara merasa seperti benalu yang menumpang hidup pada orang lain.
Meskipun Cho Kyuhyun bahkan tak banyak mengungkit tentang hal itu, hanya saja
Nara adalah seorang yang berperasaan. Ia bisa merasakan aura yang tidak
bersahabat saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah kebesaran keluarga
Cho. Singkat cerita, Nara menjadi korban pelecehan oleh Kyuhyun yang saat itu
sedang frustasi dan di bawah pengaruh minum-minuman keras dengan kadar alkohol
yang cukup tinggi.
“Hyung?!”
teriak Jino, yang merupakan putera kedua keluarga Cho. Anak laki-laki berusia lima
tahun itu sangat antusias ketika melihat Jaehyun sudah kembali dari sekolahnya.
Namun, acuh. Ya, Jaehyun mengacuhkan keberadaan Nara dan Jino.
Jaehyun hanya melihat sekilas Jino
dengan tatapannya yang tajam, setelah itu melenggang pergi memasuki kamarnya
yang terletak di lantai atas. Nara menelan kenyataan pahit lagi, sampai kapan
Jaehyun akan membenci dirinya dan juga Jino? Protes Nara dalam hati.
Kedua manik mata Jino mulai
berkaca-kaca. Jino berlari menuju Nara yang sedari tadi memperhatikan dirinya
dari dapur. Anak itu menangis, menangis kepada Nara. Menumpahkan segala
ketakutannya kepada ibunya.
“Tidak apa, sayang. Hyung hanya sedang lelah saja,” ujar
Nara mencoba memberi pengertian kepada Jino.
Ia berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Jino. Menangkup wajah mungil
Jino yang sembab karena air mata.
“Apa hyung membenciku,eomma?”
tanya Jino di sela sesenggukannya. Nara tertohok. Itu pasti. Bayangkan saja, di
usia Jino yang masih terbilang sangat kecil bisa bertanya demikian. Bagaimana
perasaanmu jika kau jadi Nara?
“Heiz, bicara apa kau ini hum? Siapa
yang mengatakannya padamu, berani sekali dia,” gerutu Nara mencubit ujung
hidung Jino yang memerah dengan usil.
“Tapi teman-teman di sekolah
mengatakan jika Jaehyun hyung
membenci Jino,” jelasnya membuat Nara kembali tertohok. Bahkan lingkungan
sekolah Jino berpikiran jika Jaehyun membenci Jino. Meskipun pada faktanya,
memang benar jika Jaehyun tidak menyukai kehadiran Jino. Apalagi mengakui Jino
sebagai adiknya. Itu tidak mungkin.
“Hei, Jino sayang. Jangan dengarkan
mereka, tapi dengarkan eomma. Kau
mengerti?” Nara membawa Jino dalam
rengkuhannnya. Jemarinya terulur untuk mengelus rambut kecoklatan milik Jino
yang saat ini dalam dekapan wanita itu.
...
Jaehyun
maupun Kyuhyun, kedua manusia itu selalu menghindar ketika Jino hendak mendekat
pada mereka. Nara paham dengan sorot kebencian yang selalu terpancar dari
Jaehyun. Tapi tidak dengan Jino bukan? Ia hanyalah seorang anak kecil yang
membutuhkan kehangatan dari keluarganya. Bukan keadaan yang menyulitkan seperti
ini.
“Appa!” teriak Jino saat melihat Kyuhyun
yang baru saja melepas sepatu dinasnya. Pria itu hanya tersenyum datar saat melihat antusiasme
Jino yang ingin memamerkan bola barunya kepada Kyuhyun. Itulah dia, pria
brengsek dengan sikap dingin dan menyebalkan sekali.
“Eomma, apa Appa lelah?” tanya Jino dengan polosnya setelah melihat ayahnya sudah
hilang bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar utama rumah ini.
“Ya,
dan Jino tidak boleh mengganggu Appa.
Jino mengerti bukan, sayang?” ujar Nara penuh dengan nada pengertian. Jino
mengangguk pelan. Ya, ia juga harus mengerti keadaan Kyuhyun yang mungkin lelah
karena selalu berkencan dengan segudang pekerjaannya selama di kantor.
...
“Jino, bangun sayang. Kau harus pergi
ke sekolah?” ujar Nara membangunkan Jino yang masih bergelung dengan selimut
tebal bermotif Doraemon itu. Anak itu menggeliat pelan, merasakan tidurnya
terganggu karena Nara.
“Apa
Appa bisa mengantarkan Jino hari ini,
eomma?” tanya Jino dengan suara anak
kecil yang khas jika bangun tidur. Nara tersenyum miris. Bahkan membayangkan
Jino dan Kyuhyun bercengkerama saja bagaikan mengharapkan salju turun di musim
gugur.
“Eomma,” tegur Jino merasa tidak mendapat
jawaban dari Nara.
“Bukankah
Jino selalu berangkat dengan Eomma?
Apa Jino tidak suka ke sekolah bersama Eomma,
eoh?” Nara pura-pura merajuk. Jino menggeleng dengan cepat. Melingkarkan kedua
lengan mungilnya ke leher Nara.
“Tidak,
bukan seperti itu. Jino hanya ingin seperti teman-teman yang lain, eomma.” Nara mengangguk kecil. Punggung
mungil itu diusapnya dengan penuh sayang.
“Eomma mengerti sayang, tapi Jino tahu
kan jika Appa sangat sibuk?” kedua
wajah ibu dan anak itu saling bertemu. Gerakan anggukan kecil tercipta oleh
Jino. Ya, Nara selalu menggunakan alasan yang sama.
“Sekarang
Jino sudah harus bersiap bukan? Atau nanti kau akan dihukum Min saem jika terlambat!” ujar Nara membantu
Jino turun dari atas ranjang. Segera menuntun putera kecilnya itu untuk
membersihkan diri dan bersiap untuk sekolah.
...
Kyuhyun
menikmati sarapannya dengan tidak bernapsu. Bukan karena menu masakan Nara,
tetapi karena ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Sementara Jaehyun
memang cukup lahap jika dengan makanan. Terlebih jika boleh jujur, masakan Nara
sangat enak. Seperti chef-chef handal di setiap restaurant yang pernah
dikunjunginya.
“Selamat
pagi, Appa dan Hyung!” sapa Jino mengeratkan ransel mungilnya.
Nara menarik salah satu kursi di samping Jaehyun dan
membiarkan puteranya itu bergabung di meja makan untuk sarapan bersama Kyuhyun,
Jaehyun dan juga dirinya.
“Aku
selesai, aku pergi.” Jaehyun beranjak dari duduknya membuat Nara mendongakkan
wajahnya. Lantas mengangguk mengerti. Berbeda dengan Kyuhyun, pria itu juga
melakukan hal yang sama seperti Jaehyun. Sungguh mirip bukan?
“Eomma, Jino bahkan belum makan
sedikitpun.” Jino tertunduk lesu. Ia benci situasi seperti ini. Dan ia tidak
bisa melakukan apapun selain pasrah setiap kali ayah dan kakaknya menghindari
dirinya. Nara juga harus ekstra sabar memberikan pengertian untuk Jino agar
tidak membenci mereka.
“Maka
dari itu, Jino harus lebih sering bangun pagi eoh. Agar nanti bisa makan
bersama Appa dan juga Hyung.” Jino mengaduk makanannya tanpa
minat.
“Eomma tidak pernah mengajari Jino untuk
memainkan makanan bukan?” tegur Nara membuat Jino cepat-cepat menyendok omurice buatannya.
“Pelan-pelan
sayang!” Nara berharap Kyuhyun dan Jaehyun akan membuka hatinya untuk dirinya
dan juga Jino. Meskipun itu mustahil, tapi tidak ada salahnya kan untuk
berharap?
...
Kyuhyun
menatap miris kedua manusia yang berada di seberang jalan sana. Di mana Nara
tengah menggandeng Jino untuk mencapai halte bus terdekat. Ini adalah jam
pulang Jino begitu juga Nara yang telah memilih berhenti mengajar pasca
melahirkan Jino.
Sesekali
Jino menoleh dan menatap iri setiap anak yang bermain bersama kedua
orangtuanya. Sedangkan ia hanya bersama Nara. Bahkan selalu dengan Nara. Ia
juga ingin seperti yang lain. Yang selalu diperhatikan oleh pria dewasa yang
selalu dipanggil dengan sebutan ‘Ayah’.
“Eomma, Jino ingin ice cream?” Jino menarik ujung dress Nara. Bermaksud agar wanita
itu berjongkok, dan Nara tentu mengikuti kemauan anaknya.
“Jino
ingin ice cream?” ulang Nara sengaja
menggoda Jino. Anak berpipi tambun itu mengangguk antusias. Jari telunjuknya
yang mungil menunjuk sebuah kedai ice
cream di seberang jalan. Nara menolehkan kepalanya ke belakang. Dan benar
saja, di sana ada sebuah kedai ice cream
yang nampak tidak begitu sepi namun tidak terlalu ramai.
“Baiklah,
Jino ingin ice cream rasa apa nanti?”
tanya Nara membawa Jino dalam gandengannya menyebrangi jalan raya yang cukup
senggang hari ini. Tidak seperti biasanya. Padat.
“Jino
ingin yang cokelat tapi tidak dengan yang ada kacangnya,” ujar Jino antusias
setelah mencapai kedai tersebut. Ia menunjuk sebuah ice cream yang cukup menarik tampilannya. Menyadari antusiasme
Jino, membuat sebuah lengkungan timbul di sudut bibir wanita itu.
“Eomma, ayo kita duduk di sana!” ajak
Jino menunjuk sebuah bangku panjang yang letaknya tidak jauh dari kedai ice cream tadi.
“Lihat,
kau berantakan sekali sayang,” ujar Nara mengusap bibir Jino yang sudah kotor
karena ice cream yang menempel di
seluruh pipi Jino yang tambun.
“Appa?” Jino membulat tidak percaya
melihat seorang pria yang berdiri di balik kotak telepon umum dengan memakai
topi hitam.
Nara
menoleh sebentar. Ia tidak terlalu memerhatikan orang itu. “Bukan sayang, Appa sedang bekerja di kantor. Jino
bahkan melihat Appa berangkat bukan?”
Jino
merengut. Memincingkan matanya untuk memastikan pria itu. Siapa tahu itu memang
benar Kyuhyun. “Eomma tidak percaya
dengan Jino?” selidik Jino kecewa.
“Mungkin
Jino sangat merindukan Appa sampai
mengira ahjussi itu adalah Kyuhyun Appa kan?” Nara mencoba mengecoh Jino.
Lagi. Anak itu merengut. Mengerucutkan bibirnya kesal.
“Sudahlah, sekarang kita pulang eoh? Eomma harus menyiapkan makan malam untuk Appa dan juga hyung,” ujar Nara mengajak Jino untuk kembali menunggu bus di halte tadi. Meskipun Jino mengikuti langkah Nara, pandangan anak itu terus mengarah pada Kyuhyun yang memang benar sedang memerhatikan dirinya dan Nara. Dari kejauhan.
...
Semilir angin
malam menyejukkan telah menyapu seluruh permukaan kulit wajah Kyuhyun. Pria
tiga puluh tiga tahun itu berdiri di teras rumah kebesarannya. Entah sadar atau
tidak, ini seperti bukan Kyuhyun. Menunggu Nara? Iya, ia sedang menunggu Nara
kembali setelah seharian penuh menguntit Nara dan Jino. Pasalnya, sudah hampir
jam delapan malam Nara belum kembali padahal ia dengan jelas melihat Nara
membawa Jino pulang dengan menaiki bus umum. Lalu dimana keberadaan mereka
sekarang ini?
“Apa
yang Appa lakukan di sini?” tegur
Jaehyun yang baru saja tiba dan memarkirkan ducati-nya.
Aneh saja, tidak biasanya Kyuhyun masih berada di luar rumah kecuali menunggu
seseorang.
“Tidak
ada, cepat masuklah dan beristirahat!” perintah Kyuhyun mendorong Jaehyun agar
segera masuk ke dalam.
Setelah
seperkian detik yang berganti hingga menunjukkan pukul sembilan malam. Siluet
tubuh Nara dengan membawa Jino dalam gendongannya, yang nampak begitu
kuwalahan. Kyuhyun gelagapan. Ia tidak ingin Nara tahu jika ia sedang menunggu
kepulangannya.
“Ssst...
tidak apa sayang, eomma di sini,”
bisik Nara mengusap punggung Jino yang sudah terlelap dalam gendongannya.
“Kau
sudah pulang?” tanya Nara melihat Kyuhyun yang sok sibuk dengan tabletnya.
“Maaf
karena tidak menyiapkan makan malam hari ini,” imbuhnya sebelum menghilang di
dalam kamar Jino. Kyuhyun menghela napas lega, kenapa ia justru takut ketahuan
oleh Nara. Padahal ia sebenarnya memang mencemaskan keadaan anak dan istrinya.
Entahlah.
Kyuhyun
memutar poros wajahnya melihat air muka Nara yang bisa dikatakan tidak pernah
menunjukkan tanda-tanda bahagia selama menikah dengannya. Sekalipun ia pernah
berbohong pada Nara. Perihal perceraiannya dengan Sena lima tahun silam. Ini
cukup rumit untuk bisa dipahami.
Nara
menghembuskan napas beratnya. Ia sengaja pulang malam karena mengunjungi rumah
lamanya. Entah kenapa tiba-tiba ia begitu merindukan rumah yang sudah menjadi
saksi bisu perjuangan hidupnya dulu. Menjadi seorang sebatang kara yang harus
membuat Nara harus merasakan kerasnya kehidupan ini. Terlebih saat ini,
meskipun semua kebutuhannya serta Jino akan dengan mudah dipenuhi oleh Kyuhyun.
Tetap saja, Nara masih merasa tidak puas. Karena kebahagiaan Jino bukan dengan
kekayaan yang diberikan oleh Kyuhyun melainkan rasa kasih dan sayang dari
Kyuhyun, itulah yang ia inginkan selama ini apalagi oleh Jino.
...
Jaehyun
merasa risih tatkala segala gerak-geriknya tengah diamati oleh Kyuhyun, ayahnya
sendiri. Bagaimana tidak, sudah hampir dua jam pria hampir tua namun tampan itu
berada di dalam kamarnya dengan alasan memantau kegiatan belajarnya. Kyuhyun
bukannya tak tahu apapun mengenai sekolah Jaehyun, bahkan berkali-kali Kyuhyun
harus menahan malu karena pihak sekolah selalu melaporkan kebrutalan Jaehyun
selama di sekolah.
“Appa, berhenti menatapku seperti itu!”
erang Jaehyun frustasi pada seorang yang duduk manis di atas ranjangnya. Dengan
kaki terlentang dan kedua tangan yang dilipat di depan dada pula.
“Jangan
pedulikan aku, lanjutkan saja belajarmu itu!” ketusnya. Membuat Jaehyun
menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Jujur saja Kyuhyun merindukan
masa-masa di mana ia selalu bercanda dengan Jaehyun. Itu semua pernah
didapatnya ketika masih ada Sena. Bukan, bukannya ia sedang merindukan Sena,
mantan istrinya itu. Tapi, ia hanya sedang mengenang kebersamaannya bersama
Jaehyun. Ia merindukan hal itu.
Sejak
memutuskan menikahi Nara, namun belum sepenuhnya melepas Sena. Jaehyun memang
secara terang-terangan mengatakan membenci Nara dan juga Jino yang saat itu
masih berada dalam kandungan Nara. Apa mungkin hal itu masih mengganggu pikiran
Nara hingga saat ini? Batin Kyuhyun.
Meskipun
Kyuhyun berada di kamar Jaehyun, ingin sekali ia mengajak Nara untuk mengobrol.
Tapi lagi-lagi sikap gengsi menghalanginya. Baginya menikahi Nara hanyalah
sebatas tanggung jawab, bahkan Nara pernah mengatakan jika tak apa ia
diceraikan setelah Jino lahir. Tapi kakak perempuannya, Cho Ahra melarang
perceraian itu. Jadi, bisa disimpulkan bahwa alasan Nara tetap tinggal adalah
saudara iparnya. Bukan Cho Kyuhyun!
“Ahra
Imo akan datang bukan minggu ini?”
tanya Jaehyun menatap Kyuhyun yang nampaknya tengah melamunkan sesuatu.
“Appa!” panggil Jaehyun membuat Kyuhyun
nyaris berjingkat.
“Ya?
Kau bicara denganku?” Kyuhyun nampak kelabakan.
“Tentu,
kau yang satu-satunya di sini. Siapa lagi?” ketus Jaehyun membuka mp3-playernya.
“Apa
kau butuh sesuatu?”
“Tidak,
aku hanya ingin ikut Imo ke LA. Aku
ingin tinggal di sana,” ujar Jaehyun gamblang.
Kerutan di dahi
Kyuhyun terbentuk nyata. Ada apa dengan anaknya itu? Kenapa mendadak sekali
ingin ikut bibinya yang menetap di Los Angeles? Begitu serentetan pertanyaan
yang tersusun di pikiran Kyuhyun.
“Apa yang
membuatmu tiba-tiba ingin tinggal bersama Imo?”
selidik Kyuhyun melihat raut wajah Jaehyun yang tidak meyakinkan. Ia tidak percaya begitu saja dengan apa alasan
yang nantinya akan keluar dari mulut anaknya itu.
“Aku
hanya ingin melanjutkan sekolahku di sana, dan Appa bisa fokus pada ibu dan anaknya itu,” jelas Jaehyun membuat
Kyuhyun menegang. Entah apa itu yang jelas Kyuhyun juga tidak bisa
menjelaskannya dengan kata-kata. Ia bahkan tidak masalah jika Cho Jaehyun akan
bertolak ke Los Angeles bersama dengan Cho Ahra.
“Kau
serius dengan ucapanmu?” selidiknya lagi.
“Ya,
kenapa tidak? Apa aku terlihat bercanda?” ketus Jaehyun. Jika seperti ini
sikapnya yang menjengkelkan akan keluar. Sama persis seperti Kyuhyun yang tidak
ingin didebat.
“Katakan
pada Ahra Imo jika kau benar-benar
ingin tinggal bersamanya!” Kyuhyun beranjak dari duduknya. Ia terlalu malas
meladeni anaknya. Melangkah keluar meninggalkan kamar Jaehyun ia sedikit
terkesiap melihat Nara duduk melamun di sofa ruang tengah mereka. Apa Nara
mendengarnya? Jika iya, apa dia akan semakin baik-baik saja. Mengingat Jaehyun
memang tidak pernah menyukai Nara berikut dengan Jino.
“Ini
sudah larut, apa kau tidak ingin tidur?” sial! Bahkan mulutnya terasa kelu
barang menanyakan perihal itu pada wanita bersurai karamel itu.
...
Hiruk pikuk
keramaian kota Seoul yang begitu padat menyambut kedatangan seorang wanita yang
nyaris berkepala empat itu. Digeretnya sebuah kopor besar berwarna hitam di
tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang sebuah dompet kulit keluaran
terbaru. Dengan kacamata hitam yang bertengger indah di atas hidungnya yang
lancip, wanita itu melenggang melewati semua manusia yang ada di bandara yang
memandang dirinya takjub. Ayolah, siapa yang tidak mengenal Cho Ahra? Puteri pertama dan satu-satunya dari keluarga
Cho.
Jemarinya yang
lentik, sangat khas dengan kulitnya yang seputih susu dan semulus kulit bayi
merogoh ponselnya yang berada di dalam dompet. Dengan segera ia men-dial sebuah nomor yang tak lain adalah
kepunyaan Cho Kyuhyun, adik semata wayangnya yang sialan tampan itu.
“...” sapa
sebuah suara dari line seberang.
“Aku sudah tiba,
jemput aku segera!” putusnya tanpa perlu menunggu persetujuan dari adiknya, ia
sudah lebih dahulu mematikan sambungan teleponnya. Persis seperti Cho Kyuhyun
bukan? Itu mungkin sudah menjadi rahasia umum jika keduanya terkenal sangat
egois, namun Cho Ahra masih lebih baik daripada Cho Kyuhyun.
...
Pancaran binar
kegirangan tak pernah surut dari manik mata Jino melihat seorang wanita yang
tengah mensejajarkan tingginya dengan dirinya. Cho Ahra menangkup kedua pipi
tambun Jino yang sungguh menggemaskan. Sungguh! Jika kalian menyaksikannya
secara langsung mungkin kalian juga akan sependapat.
“Imo, Jino merindukanmu,” ujar Jino
dengan polosnya. Ahra mengangguk mengerti. Jika boleh jujur, ia juga merasakan
hal yang sama dengan keponakan kecilnya itu.
“Imo arra,” balasnya mengasak rambut Jino
secara asal. Membuat sang pemilik sedikit mencebikkan bibirnya lantaran kesal.
Ahra dan ibunya selalu saja melakukan hal yang sama jika sudah berhadapan
langsung. Nara yang berada tidak jauh dari mereka tersenyum simpul. Setidaknya
Ahra masih peduli dengan keberadaan Jino.
“Nara-ya, kau beri makan apa Jino hingga ia
sebegitu menggemaskannya?” goda Ahra yang mengambil alih tempat kosong di
samping Nara. Nara hanya kembali melemparkan senyum simpulnya untuk Ahra. Tentu saja ia memberi Jino makanan manusia
kan, bukan makanan hewan.
Seorang pria
dengan paras jangkung itu baru saja keluar dari kamar utama yang terletak di
lantai atas. Dengan mengenakan celana santainya serta kemeja dengan lengan yang
digulung ke atas, Kyuhyun berjalan santai menuruni satu per satu anak
tangganya. Nara merasa canggung jika seperti ini. Bisa kalian bayangkan, selama
6 tahun ini mereka tak pernah bicara ataupun saling bertukar sapa meskipun
mereka tinggal di bawah atap yang sama dan tidur di ranjang yang sama. Miris
bukan?
“Sedari
tadi aku tidak melihat Jaehyun, dimana anak itu sekarang?” gerutu Ahra mendelik
curiga pada Kyuhyun yang baru akan mendaratkan pantatnya di sofa yang
berseberangan dengan Ahra, Nara dan juga Jino.
“Dia
masih ada di sekolah,” seloroh Kyuhyun menangkap basah raut wajah Nara yang
ingin sekali segera meninggalkan obrolan ini melalui ekor matanya.
“Eonni, aku akan menyiapkan makan malam.
Lanjutkan saja obrolan kalian!” Benar kan tebakan Kyuhyun. Ia tidak meleset
sedikitpun. Ahra yang menyadari situasinya menatap tajam pada adiknya yang
hanya bisa melihat punggung mungil Nara yang bergerak semakin menjauh.
“Imo, apa Imo akan tinggal di sini dengan Jino?” tanya Jino begitu polos.
Ahra segera memamerkan senyum andalannya. Lalu mengangguk pelan.
“Padahal
semalam Jaehyun merengek ingin tinggal bersamamu.” Nara menghentikan
kegiatannya memotong sayuran. Kalimat itu, setelah semalam ia mendengarnya
dengan cukup jelas. Haruskah ia mendengarnya lagi? Ahra lagi-lagi menghunuskan
tatapan tajamnya untuk sang adik. Tidak bisakah pria ini mengerti bagaimana
perasaan Nara?
...
To be Continue...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar